Connect with us

Histori

Fosil Waduk Saguling, Bukti Kehidupan Hewan Purbakala 12 Ribu Tahun Lalu

Published

on

Fosil Waduk Saguling

Tim dari Prodi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkap soal temuan fosil hewan purba di Pulau Sirtwo yang berada di tengah Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat.

Tim berhasil memverifikasi bahwa tulang yang ditemukan pada batuan di sepanjang pulau merupakan fosil, bukan hewan yang sifatnya modern atau kontemporer.

Temuan fosil-fosil hewan purba ini berasal dari kelompok Bovidae (sapi, kerbau dan banteng), Cervidae (kelompok rusa) dan Elepha maximus (gajah).

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Mika Rizki Puspaningrum, dari kelompok keahlian (KK) Paleontologi dan Geologi Kuarter, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) menuturkan survei dilakukan pada dua hari berbeda yaitu Minggu (10/11/2021) dan Jumat (15/10/2021).

Selama kegiatan survei, tim melakukan pengamatan di 17 titik di sepanjang Pulau Sirtwo. Tim berhasil memverifikasi bahwa tulang yang ditemukan pada batuan di sepanjang pulau merupakan fosil, bukan hewan yang sifatnya modern atau kontemporer.

“Jenis fosil itu berasal dari kelompok Bovidae (sapi, kerbau, dan banteng), Cervidae (kelompok rusa), dan Elephas maximus (gajah),” terangnya yang dikutip dari situs ITB.

Fosil waduk Saguling

“Fosil-fosil yang ditemukan di permukaan dan juga yang telah terekspos kemudian diangkat dan disimpan oleh pihak yang berwenang di lokasi. Berdasarkan temuan tersebut, tim berhasil mengidentifikasi fosil-fosil yang telah dikumpulkan,” tambah Mika.

Penemuan fosil kaki gajah tersebut bermula ketika salah seorang warga setempat, Jahidin (43), yang hendak menjala ikan di bantaran Waduk Saguling, mendapati tulang belulang mirip paha, kaki, kepala dan gigi binatang.

“Awalnya, saya kira hanya tulang biasa, tapi saya lihat ukurannya besar dan tersebar di beberapa titik,” jelas Jahidin.

Informasi itu sampai ke pihak pengelola wisata Sirtwo Island, yang segera melaporkan ke peneliti di ITB.

Mika menjelaskan, sekitar tahun 2020, beberapa warga lokal mengembangkan objek wisata Pulau Sirtwo, pulau-pulau di sekitar Bendungan Saguling. Pulau-pulau ini dulunya dimanfaatkan warga untuk menambang pasir.

Bahkan, katanya, sudah dilakukan beberapa kali wisata terbatas ke sana. Awalnya wisata yang ada hanya susur perahu, foto-foto di pinggir danau, dan ke menara Sirtwo.

“Sambil mengeksplorasi pulau, Pak Rizky, pegiat Pemandu Geowisata Indonesia, mendapatkan laporan dari warga sekitar yang bernama Pak Jahidin mengenai batuan yang seperti tulang. Kemudian beliau mengecek ke lapangan, lalu mengambil beberapa foto,” ujarnya melalui keterangan pers.

Foto tersebut kemudian disampaikan kepada salah satu anggota tim ITB, yang kemudian berinisiatif untuk mengecek lokasi tersebut untuk melakukan verifikasi temuan warga.

Fosil Waduk Saguling

Survei pun dilakukan tim ITB pada dua hari berbeda yaitu pada 10 dan 15 Oktober yang melibatkan Alfend Rudyawan (KK Geodinamika dan Sedimentologi), Astyka Pamumpuni (KK Geologi Terapan), Sukiato Khurniawan (Dosen Prodi Geologi Universitas Indonesia, Alumni T. Geologi ITB angkatan 2011), dan Alfita Handayani (Dosen T. Geodesi ITB).

Tim yang bekerja sama dengan Museum Geologi ini juga melakukan ekskavasi terhadap tulang kaki depan gajah yang telah terbuka dan mengalami kerusakan yang cukup parah. Maka dari itu Tim ITB berinisiatif untuk melindungi fosil tersebut dengan cara membungkusnya dengan gips untuk kemudian dapat diangkat dan diteliti lebih lanjut.

“Selain paleontologi, tim juga akan mengembangkan penelitian pada aspek geologi secara menyeluruh, meliputi kajian stratigrafi, umur dan lingkungan purba,” ucap Mika.

Lutfi Yondri memperkirakan fosil hewan yang ditemukan peneliti ITB di Pulau Sirtwo merupakan bukti adanya kehidupan prasejarah 12 ribu tahun lalu. Pasalnya fosil ini ditemukan pada lapisan yang tidak jauh berbeda dengan temuan manusia pawon.

“Kalau kita lihat dari formasi geologinya, kemudian dikaitkan dengan keberadaan temuan vertebrata itu yang sama jenisnya dengan hewan buruan manusia pawon, periode di sekitar 10 sampai 12 ribu tahun lalu,” terang pria yang merupakan Arkeolog sekaligus Tenaga Ahli Cagar Budaya Provinsi Jawa Barat.

Temuan fosil-fosil hewan purba tersebut, menurutnya sezaman dengan kehidupan manusia pawon di gua-gua alam di wilayah Cipatat, Padalarang. Dicatat oleh Lutfi, keberadaan manusia pawon ini berkisar pada periode 5.600 tahun hingga 10 ribu tahun. Namun berdasarkan temuan rangka manusia dengan kedalaman 3 meter, dia menemukan rangka manusia pawon memiliki usia sekitar 12 ribu tahun.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Histori

Dibilang Adidas dari Malaysia, Begini Sejarah Lahir & Tumbuhnya Wayang Kulit di Indonesia

Published

on

Wayang kulit
Wayang kulit

Baru-baru ini, jagat media sosial Indonesia dikagetkan dengan pernyataan Adidas soal wayang kulit berasal dari Malaysia. Hal itu menyulut amarah warga Indonesia dan membuat Adidas akhirnya melontarkan permintaan maaf.

Ya, brand Adidas menjadi bulan-bulanan netizen Indonesia usai menyatakan wayang kulit, yang menjadi desain salah satu produk mereka, berasal dari Malaysia.

Semua berawal dari postingan Adidas di akun Instagram mereka @adidassg. Mereka memosting foto buatan mereka yang masuk dalam koleksi City Pack. Terdapat desain wayang kulit di masing-masing sisi sepatu itu.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Merayakan warisan budaya Malaysia lewat mata @JAEMYC dalam #UltraBOOST DNA City Pack berikutnya,” begitu caption foto unggahan Adidas.

Caption foto itu membuat Adidas digeruduk netizen Indonesia. Adidas, lewat Instgram story-nya, menyampaikan permohonan maaf.

“Terima kasih telah menghubungi kami. Sementara wayang kulit adalah bagian penting dari warisan budaya Malaysia, kita seharusnya menyebut asal-usulnya dari Indonesia di posting-an kami,” tulis Adidas.

“Kami dengan tulus meminta maaf atas pelanggaran yang tidak disengaja yang mungkin telah dilakukan, dan sekarang telah mengubah posting-an kami,” tambah mereka.

Adidas, dalam membuat desain untuk produksinya, mengaku terinspirasi dari budaya negara-negara di Asia Tenggara. Mereka juga mengaku tak bermaksud mengklaim wayang kulit berasal dari Malaysia.

“Saat bekerja dengan seniman untuk mengembangkan perwakilan desain warisan Malaysia dan Asia Tenggara, kami dengan rendah hati terinspirasi oleh warisan budaya yang kaya di negara-negara Asia Tenggara. Untuk menghindari keraguan, baik brand maupun artis, tidak bermaksud untuk mengklaim bukan seni budaya dari Indonesia,” sebut Adidas.

“Kami berterima kasih sekali lagi atas dukungan Anda terhadap merek ini, dan pembuat konten yang berkolaborasi dengan kami untuk merayakan budaya unik kami serta identitas kami,” pungkas Adidas.

Sejarah Wayang Kulit

wayang kulit
wayang kulit

Wayang memang sedari dulu menjadi bagian dalam tradisi masyarakat Indonesia. Banyak ahli yang menyakini bahwa wayang kulit sudah ada sejak zaman kuni, yakni 1.500 sebelum Masehi (SM).

Wayang secara harfiah berarti bayangan yang merupakan istilah untuk menunjukkan teater tradisional di Indonesia. Tetapi lebih dari pertunjukan, wayang kulit menjadi media perenungan menuju roh spiritual para leluhur.

Masyarakat Indonesia percaya roh orang yang sudah meninggal masih tetap hidup dan bersemayam di kayu-kayu besar, batu, sungai, gunung dan lain-lain. Roh nenek moyang yang mereka puja ini disebut hyang atau dahyang.

Orang dapat berhubungan dengan para hyang untuk meminta perlindungan. Sementara orang yang dapat berhubungan dengan hyang melalui seorang medium yang disebut syaman.

“Inilah awal pertunjukan wayang, hyang menjadi wayang, ritual kepercayaan ini menjadi jalannya pentas dan syaman menjadi dalang,” jelas Bayu Wibisana dan Nanik Herawati, dalam buku berjudul Mengenal Wayang.

Ahli sejarah kebudayaan Belanda G.A.J Hazeau, dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897) menyakini wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Hazeau dalam desertasinya menyebut wayang sebagai walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir.

Catatan tertua tentang wayang terekam dalam Prasasti Kuti bertarikh 840 Masehi dari Joho, Sidoarjo, Jawa Timur. Pada prasasti ini telah terkenal sebutan haringgit atau dalang.

wayang kulit
wayang kulit

“Haringgit adalah bentuk halus dari kata ringgit. Kata ini sampai sekarang masih ada dalam bahasa Jawa, yang berarti wayang,” catat Timbul Haryono, guru besar arkeologi Universitas Gadjah Mada.

Sementara itu banyak naskah wayang sudah ditulis oleh pujangga Indonesia sejak abad ke 10 Masehi. Seperti naskah sastra kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuno yang ditulis pada masa Dyah Balitung (899-911 Masehi).

Setelah itu para pujangga Jawa tidak hanya melakukan penerjemahan kepada Ramayana dan Mahabharata tetapi juga memasukan falsafah Jawa. Seperti karya Empu Kanwa, Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabharata.

Pertunjukan wayang juga diperkirakan telah ada sejak zaman pemerintahan Prabu Airlangga, Raja Kahirupan (1009 -1042 Masehi). Beberapa prasasti juga telah menyebut kata-kata mawayang dan aringgit yang memiliki makna pertunjukan wayang.

Tradisi wayang juga bisa kita lihat dalam relief candi-candi di Jawa Timur, seperti Candi Surawana, Candi Jago, Candi Tigawangi, dan Candi Panataran. Kehadiran wayang dalam relief candi yang tersebar di tempat berbeda menunjukkan kesenian ini telah menyebar luas.

Sementara itu, pada zaman Majapahit telah mulai diperkenalkan cerita baru yang tidak berinduk kepada Ramayana dan Mahabharata. Saat itu muncul cerita Panji yang merupakan kisah leluhur raja Majapahit.

Tradisi menjawakan cerita wayang terus terjadi setelah masuknya pendakwah Islam, seperti para Wali Sanga. Saat itu mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, seperti cerita Damarwulan.

Pada masa Islam ini terjadi babak baru dalam perkembangan wayang kulit. Pertunjukan wayang tidak lagi eksklusif milik lingkungan istana, tetapi para pendakwah Islam mulai membawanya ke masyarakat akar rumput.

Para pendakwah ini juga mengubah bentuk-bentuk wayang menjadi sesuai dengan tradisi Islam. Salah satu pendakwah dan pendalang andal adalah Sunan Kalijaga.

Walau kini wayang kulit telah tampil dalam beragam wajah, tetapi pertunjukan ini tetap memikat dan lestari. Orang-orang dari luar negeri pun rela jauh-jauh datang ke Indonesia untuk menonton dan mempelajari sejarah wayang.

Continue Reading

Histori

Braga Permai, Restoran yang Jadi Saksi Sejarah Kota Bandung

Published

on

By

Braga Permai

Jalan Braga merupakan salah satu jalan di Kota Bandung yang dihiasi dengan bangunan-bangunan bersejarah. Dari sekian banyak bangunan tersebut, terdapat sebuah bangunan yang sejak dulu hingga sekarang masih memiliki fungsi yang sama, yaitu restoran Braga Permai.

Banyak wisatawan menikmati liburan dengan berjalan-jalan di sepanjang Jalan Braga, berfoto-foto di depan gedung tua, menyaksikan para seniman yang memamerkan karya lukisan di sepanjang jalan, hingga kongko di restoran atau kafe yang hampir memenuhi kawasan ini bisa jadi kegiatan yang menyenangkan.

Jika Cityzen sedang merencanakan liburan ke Bandung dan hendak mengunjungi Jalan Braga, di sana ada sebuah restoran vintage yang menarik untuk dicoba, yaitu Braga Permai.

Baca Juga:

  1. NATO Pecat Setengah Diplomat Rusia
  2. Israel Akan Bangun 10 Ribu Unit Rumah di Yerusalem Timur
  3. Pemerintah India Berikan Santunan Rp9,5 Juta untuk Korban Meninggal Akibat Covid-19

Restoran tersebut sudah ada sejak tahun 1918. Awalnya, tempat tersebut bernama Maison Bogerijen dan didirikan oleh L. van Bogerijn. Dalam Bahasa Perancis, maison berarti rumah dan Bogerijin diambil dari nama pendirinya. Pada kali pertama dibuka, lokasi restoran ini berada di sisi timur Jalan Braga dan Jalan Lembong. Namun, sejak tahun 1923, pindah ke Jalan Braga sampai saat ini.

Konon, restoran tersebut mendapat restu langsung dari Ratu Belanda pada zamannya. Oleh sebab itu, restoran Maison Bogerijen menjadi salah satu restoran penyedia kuliner Kerajaan Belanda, termasuk Gubernur Hindia Belanda kala itu. Restoran Maison Bogerijen pun dikenal sebagai restoran paling elite di kota Bandung.

Braga Permai

Pada awal-awal pembukaan, restoran elite ini merupakan tempat pertemuan orang-orang Belanda dan memang hanya dikunjungi kalangan. Bahkan, Braga Permai menjadi restoran favorit Gubernur Hindia Belanda saat itu.

Bangunan restoran ini memang didesain megah dan modern pada masanya. Saat ini, beberapa bagian telah direnovasi, tetapi secara keseluruhan arsitektur aslinya masih dipertahankan. Perubahan nama dari Maison Bogerijen menjadi Braga Permai pun bukan tanpa alasan. Pada tahun 1960-an, Presiden Soekarno melarang usaha atau toko menggunakan nama kebarat-baratan.

Braga Permai masih mempertahankan resep dan makanan khas Maison Bogerijen. Menu makanan di restoran ini terbilang variatif, Anda bisa menemukan menu seperti ananas geap, speculaas almond, tompoesjes, booterstaf, ruzarensla, bitterballen, dan ontbijkoek. Ada pula menu favorit seperti tenderloin grill, lamb chop, sop buntut, hingga lontong cap go meh.

Braga Permai

Untuk pilihan menu modern, ada lasagna dan salmon gamberoni. Selain itu, banyak pilihan menu es krim, cokelat, roti dan kue, hingga minuman seperti cocktail dan mocktail.

Dari segi makanan, menu-menu yang ditawarkan cenderung klasik, bahkan penyajiannya pun minimalis, tidak seperti makanan kekinian yang estetis. Namun, dari rasa tak perlu diragukan lagi. Suasana makan di restoran ini pun memberikan pengalaman berbeda, serasa kembali ke masa kolonial. Meja-meja tertata rapi dengan taplak, serbet, serta pengunjung akan diberikan sekeranjang roti dan air putih sambil menunggu hidangan datang.

Continue Reading

Histori

Jalan Braga, Pusat Belanjanya Orang Belanda

Published

on

By

Jalan Braga

Kota Bandung menjadi satu di antara destinasi wisata favorit di Indonesia. Alasannya, Kota Kembang memiliki ragam destinasi wisata alam, kuliner, dan sejarah.

Salah satu tempat wisata terpopuler di Bandung adalah Braga. Jalan Braga dipenuhi dengan deretan bangunan peninggalan Belanda dan menjadi pusat keramaian saat masa kolonial hingga saat ini.

Lantas, bagaimana asal-usul nama Braga? Asal-usul nama Braga sebenarnya memiliki banyak versi. Hingga kini, masih simpang siur terkait mana sejarah yang benar.

Baca Juga:

  1. Streaming Piala Sudirman 2021 Indonesia VS Rusia
  2. Sadar Pascaoperasi, Tukul Arwana Komunikasi Lewat Mata
  3. Masih di ICU, Ventilator Tukul Arwana Telah Dilepas

Beberapa masyarakat mengatakan kalau ‘braga’ berasal dari nama Theotila Braga (1834-1924) seorang penulis naskah drama. Awalnya, kawasan ini memang tempat perkumpulan drama bangsa Belanda pada 18 Juni 1882 oleh Peter Sijthot, seorang Asisten Residen.

Ada pula yang mengatakan kalau ‘braga’ berasal dari kata ‘bragi’, nama dewa puisi dalam mitologi bangsa Jerman. Sementara seorang sastrawan Sunda mengatakan kalau ‘baraga’ merujuk pada jalan di tepi sungai. Jalan Braga memang terletak di tepi Sungai Cikapundung.

Awal mulanya jalan braga merupakan jalan kecil dan sepi, pembangunan jalan braga ini bertujuan sebagai penghubung dua jalan utama di Kota Bandung sekitar tahun 1811. Dulunya, jalan braga terkenal dengan jalan pedati yang berlumpur.

Dikenal dengan nama karrenweg atau pedatiweg pada masa penjajahan Belanda, jalan ini menghubungkan gedung kopi milik Andreas de Wilde (Saat ini dikenal dengan Balai Kota Bandung) dengan Jalan Raya Pos (Saat ini Jalan Asia Afrika).

Jalan Braga

Hingga di abad ke-19, kota Bandung mulai dibangun dan jalan Braga mulai berkembang. Di jalan tersebut dibangun toko-toko dan menjadi pusat perbelanjaan bagi warga Eropa yang tinggal di Bandung.

Orang-orang Belanda yang membuka toko pakaian di sepanjang jalan Braga, kerap mengikuti fesyen yang sedang berkembang di kota Paris, Prancis. Apa yang sedang menjadi tren di Paris dapat dipastikan terdapat pula di Kota Bandung. Inilah alasan mengapa kota Bandung juga kerap disebut sebagai Paris Van Java.

Salah satu toko yang terkenal saat itu adalah Modemagazinj ‘au bon Marche’ yang menjual gaun wanita bergaya Paris. Selain itu, terdapat juga restoran khas Paris Maison Bogerijen yang menjadi tempat makan dan bertemunya para pejabat atau pengusaha Hindia Belanda.

Kemudian, jalan Braga juga menjadi kawasan yang dipenuhi oleh para preangerplanters atau pengusaha perkebunan teh. Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984) yang ditulis oleh Haryoto Kunto mengungkapkan bahwa jalan Braga menjadi pusat perbelanjaan ternama bagi orang-orang kaya saat itu.

Jalan Braga

Hal ini membuat kawasan Braga dijuluki sebagai De meest Eropeesche winkelstraat van Indie, atau komplek pertokoan Eropa paling terkemuka di Hindia Belanda.

Continue Reading

LATEST NEWS

COVID-19Update7 jam ago

Dukung Pemakaian Terbatas Obat Terapi Covid-19, FDA Tak Beri Rekomendasi untuk Wanita Hamil

Kekhawatiran tentang varian baru Omicron ‘berhasil’ mengguncang pasar keuangan hingga memicu keresahan terhadap kekuatan pemulihan ekonomi global ketika dunia tengah...

Nasional8 jam ago

Hari AIDS Sedunia Serukan Akses Kesehatan Merata untuk ODHA

Hari AIDS Sedunia atau World AIDS Day diperingati pada 1 Desember setiap tahunnya. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pada...

Nasional8 jam ago

Komnas HAM Beberkan Hasil Penyelidikan Kasus Perundungan dan Pelecehan Seksual di KPI Pusat

Berdasarkan serangkaian hasil penyelidikan terhadap Peristiwa Perundungan dan Pelecehan Seksual di Lingkungan KPI Pusat, Komnas HAM menyimpulkan bahwa terdapat beberapa aspek dugaan pelanggaran HAM...

InfoDesa8 jam ago

Polres Ciamis Siapkan 5 Titik Pemeriksaan Jelang Nataru

Kepolisian Resor (Polres) Ciamis siagakan lima titik pemeriksaan (check point) di sepanjang jalur Ciamis dan Pangandaran. Selain pos pemeriksaan persyaratan perjalanan menjelang Natal...

Nasional8 jam ago

Disdik Jawa Barat Terbitkan Surat Edaran Jelang Natal dan Tahun Baru, Terdapat 5 Poin yang Harus Diperhatikan

Dinas Pendidikan Jawa Barat resmi mengeluarkan aturan terkait kegiatan Pendidikan 24 Desember hingga 2 Januari 2022. Untuk diketahui pada waktu tersebut...

Nasional8 jam ago

UMK Surabaya 2022 Tertinggi di Jawa Timur, Ini Besarannya

UMK Surabaya 2022 meningkat dari tahun sebelumnya 2021 dan menandakan bahwa Upah Minimun Kabupaten/Kota tertinggi di Jawa Timur. UMK Surabaya...

Showbiz8 jam ago

Lirik Lagu Back To December – Taylor Swift, Permintaan Maaf hingga Penyesalan di Bulan Desember

Memasuki bulan Desember, tak lengkap rasanya jika tidak mendengarkan lagu patah hati paling legendaris dari Taylor Swift, yaitu Back To December. Back...

Internasional8 jam ago

Indonesia Bebas Impor Beras Umum Selama Tahun 2021, Kemendag: Terakhir Kali 2018

Kementerian Perdagangan (kemendag) memberikan pernyataan terkait pemerintah yang tidak melakukan impor beras selama tahun 2021. Dituturkan Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad lutfi, ...

Showbiz8 jam ago

Kehebohan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina Ungkap Wajah dan Nama Baby R

Raffi Ahmad dan Nagita Slavina dikaruniai anak kedua pada 26 November 2021. Melalui siaran di YouTube, keduanya mengungkap nama dan...

Nasional8 jam ago

Sah UMK 2022 Ikuti PP 36/2021, Kota Bekasi Paling Tinggi, Kota Banjar Paling Rendah

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada Selasa 30 November 2021 telah menetapkan besaran nilai UMK di Provinsi Jawa Barat melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor: 561/...

COVID-19Update1 hari ago

Cegah Lonjakan Kasus Covid-19, Polda Jabar Siapkan Gerai Vaksin di Sejumlah Titik Pemeriksaan Saat Nataru

Kepolisian Daerah Jawa Barat (Polda Jabar) akan mempersiapkan langkah untuk mengantisipasi kenaikan kasus Covid-19 pada saat libur Natal dan Tahun Baru mendatang....

Sosial-Budaya1 hari ago

Candi Suku Karanganyar, Sekilas Mirip Piramida Suku Maya di Meksiko

Candi-candi di Indonesia umumnya memiliki stupa, seperti Candi Borobudur dan Prambanan. Namun, berbeda dengan Candi Sukuh yang berada di Kabupaten...

Nasional1 hari ago

Buronan Kasus Mutilasi Ojol di Bekasi Tertangkap, Polisi Ungkap Motifnya

Polisi kembali menangkap satu pelaku inisiap ER terkait kasus mutilasi terhadap driver ojek online (ojol) inisial RS. Tersangka yang sebelumnya menjadi buronan polisi...

Internasional1 hari ago

Krisis Kemanusiaan Makin Parah Sejak Taliban Berkuasa, PBB Bagikan Uang ke Keluarga Afghanistan

Program Pangan Dunia PBB telah mendistribusikan uang tunai di ibu kota Afghanistan kepada sekitar 3.000 keluarga yang terkena dampak krisis kemanusiaan pada...

Bandung1 hari ago

Antisipasi Kebakaran di Gedung Pencakar Langit, Personel Diskar PB Bandung Butuh Keterampilan Vertical Rescue

Merespons perkembangan pembangunan -terutama gedung tinggi- di Kota Bandung, Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) Kota Bandung menyiapkan sejumlah personelnya untuk mengikuti pelatihan kemampuan...

Nasional1 hari ago

Mentri Sosial Risma Pastikan Satu Hal Saat Kunjungi Lokasi Banjir Bandang Garut

 Menteri Sosial (Mensos) RI,Tri Rismaharini, Senin 29 November 2021 mengunjungi lokasi banjir bandang di Kecamatan Sukawening, Garut, tepatnya di Kampung Ciloa, Desa Mekarwangi....

Regional1 hari ago

Polisi Ungkap Kronologi Kasus Mutilasi di Bekasi, Sebelum Dibunuh Korban Diajak Konsumsi Narkoba

Terkait korban mutilasi di Bekasi, Jawa Barat, sebelumnya pihak kepolisian telah mengamankan satu terduga pelaku dalam kasus itu. Kemudian dari hasil...

Regional1 hari ago

Pelaku Pembunuhan Istri di Cianjur Sempat Meminumkan Air Keras dan Lakban Mulut Korban

Terkait kasus penyiraman air keras oleh Warga Negara Asing (WNA) bernama Abdul Latief terhadap istri sirinya di Cianjur, Jawa Barat, polisi menyebut...

Advertisement
Advertisement

Trending